PEMBUKA

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM

Sabtu, 25 Juni 2011

JIWA AGAMA PADA MASA DEWASA

JIWA AGAMA PADA MASA DEWASA
DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENGIKUTI UJIAN SEMESTER, PRODI :
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEMESTER VI MATA KULIAH :
PSIKOLOGI AGAMA

DOSEN: Drs.SYAMSUL BAHRI. M. Pd






DISUSUN OLEH :

KELOMPOK III

INNA KURNIASIH
SUGENG JATMICKO
SUSI ZULIMERIATY
MARTINAH
MARIANI
MUHAMMAD NUR FIRDAUS





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MIFTAHUL ULUM
TANJUNGPINANG TAHUN 2011
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam yang telah melimpahkan Taufik Hidayah serta Inayah Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah PSIKOLOGI AGAMA , Dengan judul “JIWA AGAMA PADA MASA DEWASA.”
Shalawat beriring salam Penulis kirimkan kepada Junjungan Alam Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membimbing dan menuntun umatnya dari alam kegelapan yang penuh dengan kejahiliaan mengarah ke alam kejayaan dan kemajuan yang penuh dengan pengetahuan.
Tidak lupa kami haturkan terimakasih kami kepada Bapak Dosen pembimbing, yaitu Bapak Drs. Syamsul Bahri. M. Pd, yang mana telah memberikan motivasi kepada kami, baik secara fisik maupun rohani dalam perkuliahan di kampus STAI MIFTAHUL ULUM ini.
Semoga penulisan ini dapat berguna atau bermanfaat bagi kita, amin.





Tanjungpinang, Juni 2011



Kelompok III



i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…..…………………………..............................................i
DAFTAR ISI…………………………………......................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang.....................................................................................1
B. Rumusan masalah…………………………………………………....2
C. Batasan masalah………………………………………………..……2
BAB II JIWA AGAMA PADA MASA DEWASA................................................4
A. Pengertian dan ciri kedewasaan.........................................................4
B. Karakteristik sikap keberagaman pada masa dewasa..........................5
C. Criteria orang yang matang dalam beragama......................................6
D. Masalah-masalah keberagmaan pada masa dewasa............................8
E. Manusia usia lanjut dan agama………………………………...……9
F. Perlakuan terhadap usia lanjut menurut Islam..................................10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................12
B. Saran..................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Manusia adalah mahluk sosial yang eksploratif dan potensial. Dikatakan makhluk eksploratif , karena manusia memiliki kemampuan untuk
mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia sebagai makhluk potensial karena pada diri manusia tersimpan sejumlah kemampuan bawaan yang dapat dikembangkan secara nyata.

Selanjutnya manusia juga disebut sebagai makhluk yang memiliki prinsip tanpa daya, karena untuk tumbuh dan berkembang secara normal manusia memerlukan bantuan dari luar dirinya.Bantuan yang dimaksud antara lain dalam bentuk bimbingan dan pengarahan dari lingkungannya. Bimbingan dan pengarahan yang diberikan dalam dalam membantu perkembangan tersebut pada hakekatnya diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri,yang sudah tersimpan seagai potensi bawaannya. Karena itu bimbingan yang tidak searah dengan potensi yang dimiliki akan berdampak negatif bagi perkembangan manusia.
Dalam diri kita selain mempelajari tentang perkembangan jiwa keduniaan ,kita juga mempelajari jiwa keagamaan karena kita harus melihat kebutuhan-kebutuhan manusia secara menyeluruh sebab kebutuhan manusia yang kurang seimbang antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani akan menyebabkan timbul ketimpangan dalam perkembangan.

Jiwa keagamaan termasuk aspek rohani (psikis) akan sangat tergantung pada aspek fisik,dan dengan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu sering dikatakan kesehatan fisik akan sangat berpengaruh pada kesehatan mental . Selain itu perkembangan juga ditentukan oleh tingkat usia .
Secara garis besar periode perkembangan itu dibagi menjadi 7 masa yaitu :
1 . Masa Pre-natal
2 . Masa Bayi
3 . Masa Kanak-kanak
4 . Masa Pre-pubertas
5 . Masa Pubertas
6 . Masa Dewasa
7 . Masa Usia Lanjut
Setiap masa perkembangan memiliki ciri-ciri sendiri ,termasuk jiwa keagamaan. Sehubungan dengan kebutuhan manusia dan periode perkembangan tersebut, maka dalam kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan akan dilihat sebagaimana pengaruh timbal-balik antara keduanya. Dengan demikian perkembangan jiwa keagamaan juga akan dilihat dari tingkat usia dewasa dan usia lanjut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah sebagaimana diurai di atas maka penulis menyusun rumusan masalah yakni sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengertian dewasa dan ciri kedewasaan ?
2. Bagaimanakah karakteristik sikap keberagamaan pada masa dewasa ?
3. Bagaimanakah masalah-masalah keberagamaan pada masa dewasa ?
4. Bagaimanakah manusia usia lanjut dan agama ?
5. Bagaimanakah perlakuan terhadap usia lanjut menurut islam ?

C. Batasan Masalah
Bertitik tolak pada rumusan masalah di atas maka perumusan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui bagaimanakah pengertian dewasa dan ciri kedewasaan
2. Mengetahui karakteristik sikap keberagamaan pada masa dewasa
3. Mengetahui masalah-masalah keberagamaan pada masa dewasa
4. Mengetahui manusia usia lanjut dan agama
5. Mengetahui perlakuan terhadap usia lanjut menurut islam

























BAB II
ILMU JIWA AGAMA PADA MASA DEWASA


A. Pengertian dan Ciri Kedewasaan
Saat telah menginjak usia dewasa terlihat adanya kematangan jiwa mereka; “Saya hidup dan saya tahu untuk apa,” menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup. Dengan kata lain, orang dewasa nilai-nilai yang yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya.
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:
a. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult)
Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru.Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.
b. Masa dewasa madya (middle adulthood)
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial antara lain masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
c. Masa usia lanjut (masa tua/older adult)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut perubahan yang menyangkut kemampuan motorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam sistem syaraf, perubahan penampilan.

B. Karakteristik Sikap Keberagamaan pada Masa Dewasa
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki ciri sebagai berikut:
1. Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
2. Cenderung bersifat realitas, sehinggga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
3. Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
4. Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
5. Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
6. Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
7. Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
8. Terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.

C. Kriteria Orang yang Matang dalam Beragama.
Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragama.Jadi, kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bukunya The Varieties Of Religious Experience William James menilai secara garis besar sikap dan prilaku keagamaan itu dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu:
1. Tipe Orang yang Sakit Jiwa (The Sick Soul)
Menurut William James,sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada mereka yang pernah mengalami latar belakang kehidupan keagamaan yang terganggu. Maksudnya orang tersebut meyakini suatu agama dan melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang berkembang secara bertahap sejak usia kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa seperti lazimnya yang terjadi pada perkembangan secara normal. Mereka meyakini suatu agama dikarenakan oleh adanya penderitaan batin antara lain mungkin diakibatkan oleh musibah, konflik batin ataupun sebab lainnya yang sulit diungkapkan secara ilmiah.
Adapun ciri-ciri tindak keagamaan mereka yang mengalami kelainan kejiwaan itu umumnya cenderung menampilkan sikap:
- Pesimis
Dalam mengamalkan ajaran agama mereka cenderung bersikap pasrah diri kepada nasib yang telah mereka terima.
- Intovert
Sifat pesimis membawa mereka untuk bersikap objektif.Segala marabahaya dan penderitaan selalu dihubungkannya dengan kesalahan diri dan dosa yang telah diperbuat.
- Menyenangi paham yang ortodoks.
Sebagai pengaruh sifat pesimis dan introvert kehidupan jiwanya menjadi pasif. Hal ini lebih mendorong mereka untuk menyenangi paham keagamaan yang lebih konservatif dan ortodoks.
2. Tipe Orang yang Sehat Jiwa (Healthy-Minded-Ness)
Ciri dan sifat agama pada orang yang sehat jiwa menurut W. Starbuck yang dikemukakan oleh W. Houston Clark dalm bukunya Religion Psychology adalah:
- Optimis dan gembira
Orang yang sehat jiwa menghayati segala bentuk ajaran agama dengan perasaan optimis.Pahala menurut pandangannya adalah sebagai hasil jerih payah yang diberikan Tuhan.Sebaliknya, segala bentuk musibah dan penderitaan yang dianggap sebagai keteledoran dan kesalahan yang dibuatnya dan tidak beranggapan sebagai peringatan Tuhan terhadap dosa manusia.
- Ektrovet dan tak mendalam
Sikap optimis dan terbuka yang dimiliki orang yang sehat jasmani ini menyebabkan mereka mudah melupakankesan-kesan buruk dan luka hati yang tergores sebagai ekses agamis tindakannya.
- Menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal
Sebagai pengaruh kepribadaian yang ekstrovet maka mereka cenderung:
1) Menyenangi teologi yang luwes dan tidak kakuk
2) Menunjukkan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas
3) Mempelopori pembelaan terhadap kepentingan agama secara sosial.

D. Masalah-Masalah Keberagamaan pada Masa Dewasa
Seorang ahli psikologi Lewis Sherril, membagi masalah-masalah keberagamaan pada masa dewasa sebagai berikut :
a. Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
b. Masa dewasa tengah, masalah sentaral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
c. Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama.Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.

E. Manusia Usia Lanjut dan Agama
Pada tahap kedewasaan awal terlihat krisis psikologi yang dialami oleh karena adanya pertentangan antara kecenderungan untuk mengetatkan hubungan dengan kecenderungan untuk mengisolasi diri. Terlihat kecenderungan untuk berbagi perasaan bertukar pikiran dan memecahkan berbagai problema kehidupan dengan orang lain ( Rit Atkinson,1983 : 97).
Mereka yang menginjak usia ini (sekitar 25-40 Th) memiliki kecenderungan besar untuk berumah tangga, kehidupan sosial yang lebih luas serta memikirkan masalah-masalah agama yang sejalan denganlatar belakang kehidupannya .
Selanjutnya pada tingkat kedewasaan menengah (40-65 th) manusia mencapai puncak periode usia yang paling produktif . Tetapi dalam hubungannya dengan kejiwaan, maka pada usia ini terjadi krisis akibat pertentangan batin antara keinginan untuk bangkit dengan kemunduran diri. Karena itu umumnya pemikiran mereka tertuju pada upaya untuk kepentingan keluarga, masyarakat dan generasi mendatang.
Adapun di usia selanjutnya yaitu setelah usia di atas 65 tahun manusia akan menghadapi sejumlah permasalahan. Permasalahan pertama adalah penurunan kemampuan fisik hingga kekuatan fisik berkurang, aktifitas menurun, sering mengalami gangguan kesehatan yang menyebabkan mereka kehilangan semangat.
Adapun sikap keberagamaan pada usia lanjut justru mengalami peningkatan dan untuk proses seksual justru mengalami penurunan .
Berbagai latar belakang yang menjadi penyebab kecenderungan sikap keagamaan pada manusia usia lanjut, secara garis besar ciri-ciri keberagamaan di usia lanjut adalah :
1. Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan .
2. Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
3. Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
4. Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia, serta sifat-sifat luhur.
5. Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan usia yang bertambah lanjut .

F. Perlakuan terhadap Usia Lanjut Menurut Islam
Menurut Lita L . Atkinson, sebagian besar orang-orang yang berusia lanjut (usia 70-79 th) menyatakan tidak merasa dalam keterasingan dan masih menunjukkan aktifitas yang positif. Tetapi perasaan itu muncul setelah mereka memperoleh bimbingan semacam teraphi psikologi.
Kajian psikologi berhasil mengungkapkan bahwa di usia melewati setengah baya, arah perhatian mereka mengalami perubahan yang mendasar. Bila sebelumnya perhatian diarahkan pada kenikmatan materi dan duniawi, maka pada peralihan ke usia tua ini, perhatian mereka lebih tertuju kepada upaya menemukan ketenangan batin. Sejalan dengan perubahan itu, maka masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan akhirat mulai menarik perhatian mereka.
Perubahan orientasi ini diantarnya disebabkan oleh pengaruh psikologis. Di satu pihak kemampuan fisik pada usia tersebut sedah mengalami penurunan. Sebaliknya di pihak lain, memiliki khasanah pengalaman yang kaya. Kejayaan mereka di masa lalu yang pernah diperoleh sedah tidak lagi memperoleh perhatian karena secara fisik mereka dinilai sudah lemah.Kesenjangan ini menimbulkan gejolak dan kegelisahan-kegelisahan batin.
Apabila gejolak-gejolak batin tidak dapat di bendung lagi, maka muncul gangguan kejiwaan seperti stress, putus asa, ataupun pengasingan diri dari pergaulan sebagai wujud rasa rendah diri (inferiority).Dalam kasus-kasus seperti ini, umumnya agama dapat difungsikan dan diperankan sebagai penyelamat. Sebab melalui ajaran pengamalan agama, manusia usia lanjut merasa memperoleh tempat bergantung. Fenomena adanya para pejabat pensiunan seperti ini sudah jamak terlihat di masyarakat akhir-akhir ini .
Sebagai dalam memberi perlakuan yang baik kepada kedua orang tua ,Allah menyatakan :
Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu , maka jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .(Qs 17 : 23)



























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan.
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun.Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.
Seorang ahli psikologi Lewis Sherril membagi masalah-masalah keberagamaan pada masa dewasa yaitu masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan. Masa dewasa tengah, masalah sentral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’.Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama.Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.
Menurut Lita L . Atkinson, sebagian besar orang-orang yang berusia lanjut (usia 70-79 th) menyatakan tidak merasa dalam keterasingan dan masih menunjukkan aktifitas yang positif. Tetapi perasaan itu muncul setelah mereka memperoleh bimbingan semacam terapi psikologi.
B. Saran
Masa dewasa merupakan masa kematangan, yang mana terdapat pengambilan keputusan. Diharapkan pada masa ini seseorang yang telah dewasa mampu mengambil sikap adil dan bijaksana dalam urusan dunia dan akhirat. Kajian psikologi berhasil mengungkapkan bahwa di usia melewati setengah baya, arah perhatian mereka mengalami perubahan yang mendasar. Bila sebelumnya perhatian diarahkan pada kenikmatan materi dan duniawi, maka pada masa usia lanjut akan melangkah kepada, lebih tertuju kepada upaya menemukan ketenangan batin. Sejalan dengan perubahan itu, maka masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan akhirat mulai menarik perhatian mereka.


DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007

Sururin, M.Ag. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

http://sidrotul.multiply.com/journal/item/3/Perkembangan_Jiwa_Beragama_Pada_ Masa_Dewasa

http://aksay.multiply.com/journal/item/13/kebutuhan_keberagamaan_pada_usia dewasa_dan_lanjut_usia

Selasa, 07 Juni 2011

percakapan di hotel

MAKE A ROOM RESERVATION

A = Reservation staff
B = Mrs Yulis Samoa [Guest]

A : Good morning Reservation [of Shine Hotel], how may I asist you?
B : I want to book a room [make a room reservation].
A : When would you like to stay with us?
B : Around the end of this [the] year.
A : All right Mam. We have 3 types of room, standard, deluxe, and suite. The price of the standard room is $ 100 [one hundred dollars] per night, deluxe room is $ 200 [two hundred dollars] per night, and the suite is $ 400 [four hundred dollars] per night. What [which] type of room would you like to book?
B : I want to book a deluxe room for me and my husband.
A : Please wait a moment. I will check if the deluxe room is still available for the end of the year.
A : All right Mam, we still have deluxe room available for the end of the year. May we know your arrival and departure date?
B : I will arrive on 27th December and depart on January 03rd.
A : All right Mam, I will make a room reservation for you. Could I have [know] your name please?
B : Yulis Samoa
A : Could you spell it for me please?
B : Y for Yankee, U for Uniform, L for Lima, I for Indian, S for Sierra, S for Sierra, A for Alpha, M for Mike, O for Oscar, A for Alpha.
A : All right Mrs. Samoa. I have made a room reservation for you. You will check in on December 27 and check out on January 03, total 7 [seven] nights. I will send the confirmation by fax. Could I have your fax number?
B : I am sorry I don’t have fax.
A : How about email?
B : Yes, this is my email address : yulissamoa@yahoo.com
A : Thank you. I will send the confirmation by email.
B : Thank you very much.

Source : http://www.yulissamoa.com/contoh-percakapan-dalam-bahasa-inggris






Terjemahannya adalah :
A = Staff Reservasi
B = Ibu Yulis Samoa [Tamu]
A : Selamat pagi Reservation [Shine Hotel], bagaimana saya bisa [boleh] membantu Anda?
B : Selamat pagi. Saya mau memesan kamar.
A : Kapan Anda ingin tinggal bersama kita?
B : Sekitar akhir tahun ini.
A : Baiklah Ibu. Kami mempunyai tiga jenis kamar, yaitu standar, deluxe dan suite. Harga kamar standar $ 100 per malam, kamar deluxe $ 200 per malam, dan suite $ 400 per malam. Kamar jenis mana yang ingin Ibu pesan?
B : Saya ingin memesan deluxe room untuk saya dan suami saya.
A : Mohon tunggu sebentar. Saya akan mengecek apakah kamar deluxe masih tersedia untuk akhir tahun ini.
A : Baik Ibu, kami masih punya kamar deluxe untuk akhir tahun. Boleh kami tahu kapan tanggal kedatangan dan keberangkatan Anda?
B : Saya akan datang tanggal 27 Desember dan berangkat tanggal 3 Januari.
A : Baik Ibu, saya akan membuatkan pemesanan kamar untuk Anda. Bisa saya tahu nama Ibu?
B : Yulis Samoa.
A : Bisakah Ibu mengejanya untuk saya?
B : Y untuk Yankee, U untuk Uniform, L untuk Lima, I untuk Indian, S untuk Sierra, S untuk Sierra, A untuk Alpha, M untuk Mike, O untuk Oscar, A untuk Alpha.
A : Terima kasih Ibu Samoa. Saya sudah membuat reservasi untuk Anda. Anda akan check in tanggal 27 Desember dan check out tanggal 3 Januari. Semuanya 7 malam. Kami akan mengirimkan konfirmasi lewat fax. Bisakah kami minta nomor fax Anda?
B : Maaf saya tidak punya fax.
A : Bagaimana dengan email?
B : Ya, ini alamat email saya : yulissamoa@yahoo.com
A : Terima kasih. Saya akan kirimkan konfirmasinya lewat email.
B : Terima kasih.
http://www.yulissamoa.com/contoh-percakapan-dalam-bahasa-inggris

percakapan di hotel

MAKE A ROOM RESERVATION

A = Reservation staff
B = Mrs Yulis Samoa [Guest]

A : Good morning Reservation [of Shine Hotel], how may I asist you?
B : I want to book a room [make a room reservation].
A : When would you like to stay with us?
B : Around the end of this [the] year.
A : All right Mam. We have 3 types of room, standard, deluxe, and suite. The price of the standard room is $ 100 [one hundred dollars] per night, deluxe room is $ 200 [two hundred dollars] per night, and the suite is $ 400 [four hundred dollars] per night. What [which] type of room would you like to book?
B : I want to book a deluxe room for me and my husband.
A : Please wait a moment. I will check if the deluxe room is still available for the end of the year.
A : All right Mam, we still have deluxe room available for the end of the year. May we know your arrival and departure date?
B : I will arrive on 27th December and depart on January 03rd.
A : All right Mam, I will make a room reservation for you. Could I have [know] your name please?
B : Yulis Samoa
A : Could you spell it for me please?
B : Y for Yankee, U for Uniform, L for Lima, I for Indian, S for Sierra, S for Sierra, A for Alpha, M for Mike, O for Oscar, A for Alpha.
A : All right Mrs. Samoa. I have made a room reservation for you. You will check in on December 27 and check out on January 03, total 7 [seven] nights. I will send the confirmation by fax. Could I have your fax number?
B : I am sorry I don’t have fax.
A : How about email?
B : Yes, this is my email address : yulissamoa@yahoo.com
A : Thank you. I will send the confirmation by email.
B : Thank you very much.

Source : http://www.yulissamoa.com/contoh-percakapan-dalam-bahasa-inggris






Terjemahannya adalah :
A = Staff Reservasi
B = Ibu Yulis Samoa [Tamu]
A : Selamat pagi Reservation [Shine Hotel], bagaimana saya bisa [boleh] membantu Anda?
B : Selamat pagi. Saya mau memesan kamar.
A : Kapan Anda ingin tinggal bersama kita?
B : Sekitar akhir tahun ini.
A : Baiklah Ibu. Kami mempunyai tiga jenis kamar, yaitu standar, deluxe dan suite. Harga kamar standar $ 100 per malam, kamar deluxe $ 200 per malam, dan suite $ 400 per malam. Kamar jenis mana yang ingin Ibu pesan?
B : Saya ingin memesan deluxe room untuk saya dan suami saya.
A : Mohon tunggu sebentar. Saya akan mengecek apakah kamar deluxe masih tersedia untuk akhir tahun ini.
A : Baik Ibu, kami masih punya kamar deluxe untuk akhir tahun. Boleh kami tahu kapan tanggal kedatangan dan keberangkatan Anda?
B : Saya akan datang tanggal 27 Desember dan berangkat tanggal 3 Januari.
A : Baik Ibu, saya akan membuatkan pemesanan kamar untuk Anda. Bisa saya tahu nama Ibu?
B : Yulis Samoa.
A : Bisakah Ibu mengejanya untuk saya?
B : Y untuk Yankee, U untuk Uniform, L untuk Lima, I untuk Indian, S untuk Sierra, S untuk Sierra, A untuk Alpha, M untuk Mike, O untuk Oscar, A untuk Alpha.
A : Terima kasih Ibu Samoa. Saya sudah membuat reservasi untuk Anda. Anda akan check in tanggal 27 Desember dan check out tanggal 3 Januari. Semuanya 7 malam. Kami akan mengirimkan konfirmasi lewat fax. Bisakah kami minta nomor fax Anda?
B : Maaf saya tidak punya fax.
A : Bagaimana dengan email?
B : Ya, ini alamat email saya : yulissamoa@yahoo.com
A : Terima kasih. Saya akan kirimkan konfirmasinya lewat email.
B : Terima kasih.
http://www.yulissamoa.com/contoh-percakapan-dalam-bahasa-inggris

Senin, 06 Juni 2011

AGAMA NASRANI (ILMU PERBANDINGAN AGAMA)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang.
Agama Samawi ada 3, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiga agama ini mempunyai beberapa kesamaan seperti percaya Adam adalah manusia pertama dan nenek moyang seluruh manusia, Ibrahim adalah seorang Nabi, dan kitab suci Taurat sebagai wahyu Allah. Meski demikian ada juga perbedaan yang beberapa di antaranya sangat mendasar.
Agama Kristen memiliki tiga sekte utama : Katholik, Protestan, dan Orthodoks. Awalnya, sekte Katholik dan Orthodoks adalah satu karena sama-sama berkiblat ke Gereja Roma. Akan tetapi, karena perselisihan maka Kristen Roma tersebut pecah menjadi dua : Katholik dan Orthodoks. Kristen Katholik banyak dianut di negara-negara Barat, sedangkan Kristen Orthodoks banyak dianut di negara-negara Timur Tengah. Adapun Kristen Protestan muncul dari gerakan protes atas kekuasaan Gereja yang sewenang-wenang dan dianggap sudah menyimpang dari Injil. Diantara tokoh gerakan protes tersebut adalah Martin Luther dan John Calvin.

B. Permasalahan.
1. Apakah prinsip-prinsip ketuhanan agama nasrani?
2. Apakah kitab, nabi, tempat ibadah serta penganut nasrani didunia?

C. Batasan masalah.
1. Tentang prinsip-prinsip ketuhanan nasrani.
2. Tentang kitab, nabi, tempat ibadah maupun para pengikut nasrani didunia.


BAB II
NASRANI

A. Pengertian Nasrani dan Prinsip Ketuhanan.
Nasrani atau al-Nashraniyah, menurut beberapa kalangan diambil dari kata al-Naashiruun (yang berarti orang-orang yang menolong, yakni menolong Nabi Isa [al-hawaariyuun]) dan menurut beberapa kalangan yang lain berasal dari nama kota : Nazaret. Kristen (al-Masiihiyah, al-Nashraniyah) merupakan agama yang awalnya dibawa oleh Nabi Isa as. Nama Kristen diambil dari kata Christ (nama lain Jesus [Isa], dalam bahasa Arab : Al-Masiih). Tetapi, agama Kristen yang sekarang ini bukanlah agama Kristen yang ada pada zaman Nabi Isa. Agama Kristen yang ada saat ini sebetulnya lebih tepat jika disebut sebagai Agama Paulus, karena Paulus adalah orang yang mendirikan agama ini. Sebelum mendirikan agama Kristen, Paulus merupakan seorang Yahudi.
Umat Kristen percaya bahwa Jesus (Isa) telah mati disalib. Mereka meyakini Ketuhanan Trinitas (yang terdiri atas Tiga Oknum : Tuhan Ayah, Tuhan Anak, dan Ruh Kudus). Bagi mereka, Nabi Isa adalah manusia sekaligus Tuhan (Tuhan Anak).
Huston Smith (Agama-Agama Manusia, 2004: 379) mengatakan jika Yesus adalah kepala dari tubuh ini dan roh kudus adalah jiwanya, maka orang Kristen secara perseorangan adalah selnya. Sel-sel dari suatu badan jasmani tidak hidup terpisah satu sama lain; suatu kehidupan saling menunjang secara menyeluruh dengan setiap sel yang merupakan bagiannya. Demikian juga dengan roh kudus mengalir melalui setiap orang Kristen dan memberinya hidup, yang secara keseluruhan merupakan bentuk lahiriah dari gereja.
Sebelum Konsili (Konferensi) Nicea, ditengah-tengah Kristen masih terdapat sekte yang menganut monotheisme, yaitu sekte Ariusme. Tetapi pada konferensi itu mereka kalah dan dihancurkan, sehingga tinggallah sekte-sekte yang menganut Trinitas. Pada awalnya, hari suci umat Kristen adalah hari Sabtu (Hari Sabat) tetapi kemudian dipindah menjadi Hari Minggu.
B. Katholik Roma.
Katholik berasal dari bahasa yunani yaitu katholikos yang berarti “am” atau universal, karena ajarannya tersebar dan diterima diseluruh dunia. Agama katholik merupakan suatu nama agama yang dipergunakan untuk menyebut agama Kristen yang mempunyai organisasi atau ajaran yang berpusat di Vatikan, Roma. (T.H. Thalhas, 2006: 99).
Paulus menjadi guru untuk agama ini. Salah satu dari khotbahnya adalah “saya memberitahukan kepada anda skalian bahwa injil yang saya beritakan itu tidaklah menurut kaji manusia biasa sebab saya tidak menerimanya dari manusia, tetapi saya mendapat ilham langsung dari yesus kristus”. Menurut pengakuannya paulus mempunyai hubungan langsung dengan yesus, maka tidak ada hak bagi siapapun untuk menentangnya mengenai ajaran-ajaran yang dikataknnya. Demikianlah maka paulus telah menjadi salah seorang Pembina, pelukis, dan pengubah ajaran agama masehi dari agama untuk Bani Israel menjadi agama untuk semua bangsa-bangsa dipermukaan bumi ini.
Paulus merupakan kunci soal untuk mengetahui agama Kristen. Nama asalnya adalah saul yang kemudian berubah menjadi paulus, seperti dikatakan oleh Dr. Berry; “bahwa paulus lah yang sebenarnya pendiri agama Kristen”. (T.H. Thalhas, 2006: 107).
Pokok-pokok Ajaran Katholik Roma:
1. Ajaran mengenai ketuhanan.
2. Pengorbanan yesus untuk menebus dosa manusia.
3. Status yesus dan peranannya sebagai putra tuhan.
4. Kepercayaan terhadap hari kiamat dan surga.
5. Keyakinan tentang kekalnya jiwa sesudah manusia mati.
6. Kepercayaan terhadap kesucian gereja.

Hari-hari besar umat katholik:
1. 25 desember, hari natal, hari kelahiran yesus kristus.
2. 31 maret, hari wafatnya yesus kristus.
3. 2-3 april, hari raya paskah kedua.
4. 11 mei, hari mi’rajnya yesus kristus ke langit sesudah 40 hari bangun dari kubur.
5. Pantekosta, hari raya kelima puluh sesudah hari raya paskah kedua.
6. 15 agustus, hari raya santa maria.

C. Kristen Protestan.
T. H. Thalhas (ilmu perbandingan agama, 2006: 123) mengatakan nama protestan berasal dari kata protes yang dilontarkan oleh pangeran dan raja jerman yang mendukung gerakan reformasi melawan keputusan paus yang beragama romawi katholik pada waktu sidang dewan kekaisaran (dewan Negara) kedua di kota speyer (1529). Para raja menentang tekanan yang kuat dari penguasa yang beragama roma katholik, dari protes mereka pada siding diatas maka lahirlah kelompok mereka yang bernama protestan.
Kelahiran agama Kristen protestan banyak dipengaruhi oleh latar belakang perkembangan masyarakat Eropa barat pada abad menjelang kelahirannya yaitu pada abad ke-16.
Prinsip ajaran protestan:
1. Pimpinan gereja tidak tunduk kepada paus di Vatikan.
2. Pimpinan agama boleh kawin.
3. Perjamuan roti dan anggur hanya merupakan symbol saja.
4. Hak kaum pendeta dan kaum awam sama saja.
5. Gereja tidak berhak mengampuni dosa-dosa manusia.
Pokok-pokok ajaran agama Kristen protestan:
1. Pengakuan imam rasuli.
2. Kepercayaan tentang tuhan.
3. Yesus kristus sebagai tuhan dan manusia.
4. Roh kudus adalah pribadi tuhan.
5. Eskatologi.
6. Ajaran tentang alam dan manusia.
7. Etika Kristen dari al kitab baik secara falsafi maupun natural.
8. Sakramen sebagai pusat ibadah.

D. Kitab Suci.
Kitab suci agama Nasrani disebut Bibel. Dalam bahasa Inggris disebut The Holy Bible. Di Indonesia disebut Alkitab. Terdiri dari dua kitab, yaitu Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament). Perjanjian Lama tidak lain adalah Taurat, yang juga kitab suci umat Yahudi.
Kitab perjanjian baru yang ada sekarang ini disusun, ditetapkan dan dipakai sejak konfrensi dewan gereja sedunia I (konsili Nicea tahun 325 M). Terdiri dari empat, yang namanya diambil dari nama-nama para penginjilnya (Masing-masing ditulis oleh Markus, Mathius, Lukas, dan Yohanes.). Penulisan dilakukan sekitar tahun 70 hingga 100 Masehi sekitar 40 tahun setelah Yesus wafat (diperkirakan tahun 29 M).
Gambaran Singkat Empat Injil yang Diakui Gereja:
Berikut adalah gambaran singkat mengenai empat Injil yang diakui oleh gereja sejak Konsili Nicea tersebut:
1. Injil Matta (Matius).
Umat Nasrani sepakat mengatakan bahwa Matius menulis dengan bahasa Ibrani atau Suryani setelah kepergian Yesus dari muka bumi. Kumpulan Injil Matius tertua yang pernah ditemukan, ditulis dalam bahasa Yunani. Itu pun telah hilang tidak diketahui di mana rimbanya.
Beberapa sarjana teologi Kristen mengatakan bahwa Matius yang menulis Injil Matius itu bukanlah Matius si pemungut pajak yang termasuk dalam 12 murid utama Yesus, tetapi orang keturunan Yahudi yang tidak dikenal asal-usulnya. Dalam hal ini, K. Riedel mengatakan,
“Menurut pendapat kami, pengarang Injil Matius bukannya seorang dari keduabelas rasul, melainkan seorang Kristen berbangsa Yahudi yang tidak dikenal.” (Tafsiran Injil Matius, BPK Jakarta, hlm. 14)
J. B. Phillips mengatakan,
“Early tradition ascribed this gospel to apostle Matthew, but scholars nowadays almost all reject this view. The author, whom we still can conveniently call Matthew…He was used Mark’s Gospel freely, though he has rearranged the order of events and has in several instances used different words for what is plainly in the same story.” (The Gospel Translated into Modern English).
(Tradisi kuno menganggap bahwa Injil ini berasal dari rasul Matius, tetapi hampir semua ilmuwan menolak pendapat ini. Pengarangnya, yang masih kita sebut Matius…telah mencontek secara bebas Injil Markus, meskipun dia telah merubah urutan kejadian dan dalam beberapa kesempatan menggunakan kata yang berbeda untuk cerita yang sama).
Para professor pakar Tafsir Alkitab menyatakan,
“Jelas sekali bahwa Matius mencakup hampir seluruh Injil Markus, kendati dia meringkas cerita-cerita Markus tentang mukjizat untuk menyediakan tempat bagi banyak bahan yang tidak dilaporkan oleh Markus.” (The New Bible Dictionary, edisi Indonesia: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, cet. 3, 1997, hlm. 38).

2. Injil Markus.
Umat Nasrani sepakat mengatakan bahwa kitab ini ditulis dalam bahasa Yunani sekitar 23 tahun setelah pengangkatan Yesus. Namun terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa penulis sebenarnya. Sebagian mengatakan Petrus, dan sebagian lagi mengatakan Markus yang menulis setelah wafatnya Petrus dan Paulus. Tetapi yang jelas, ada keraguan tentang siapa yang membukukan Injil Markus. Di sisi lain, mereka sepakat bahwa bukan Yesus yang mendiktekannya secara langsung, karena Markus bukanlah murid utama Yesus atau bukan termasuk 12 apostles.
Sedangkan yang termasuk 12 apostles itu adalah:
“Simon (yang juga disebut Petrus) dengan saudaranya yaitu Andreas, Yakobus bin Zebedeus dan saudaranya yaitu Yohanes bin Zebedeus, kemudian Filipus, Bartolomeus, Thomas, Matius si penagih pajak, Yakobus bin Alfeus, Tadeus, Simon si Patriot, dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus.” (Matius 10: 2-4)

3. Injil Lukas.
Lukas adalah murid kesayangan dan pendamping setia Paulus. Sebagian sejarawan dunia menyebutkan bahwa ia lahir di Anttiokia, dan sebagian lagi menyebutkan bahwa ia berasal dari Rumania, lahir di Italia dan dikenal sebagai pelukis. Namun mereka semua sepakat bahwa Lukas bukan murid Yesus dan bukan pula murid dari muridnya Yesus.
Yang pasti adalah bahwa ia murid Paulus. Sedangkan, Paulus sendiri tidak pernah bertemu Yesus dan tidak pernah mendengar secara langsung dari Yesus. Artinya, Paulus sendiri bukan murid langsung dari Yesus (bukan 12 murid utama Yesus atau bukan salah satu dari 12 Apostles).
Paulus berperan penting dalam mengubah ajaran agama Nasrani dan bertanggung-jawab penuh atas praktek penyimpangan dari kebenaran. Ia adalah seorang Yahudi keturunan Persia yang lahir di Tarsus atau Rumania. Sejarawan Masehi menyebutkan bahwa Paulus telah melakukan berbagai penindasan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap penganut agama Masehi, sebelum ia secara tiba-tiba memeluk agama Masehi.
Murid Paulus yang bernama Lukas, pada akhir kisah perjalanan gurunya mengatakan, “Ketika ia (Paulus) berkhutbah dan memberi nasehat, ia menyebutkan bahwa Isa Almasih adalah putra Allah.” Padahal, pemikiran seperti itu belum pernah dikenal dalam ajaran Masehi sebelumnya.
Yang disepakati oleh seluruh sejarawan Masehi, adalah bahwa Lukas menuliskan kitabnya dalam bahasa Yunani sekitar 20 tahun setelah pengangkatan Yesus, dan bukan Yesus yang mendiktekannya secara langsung.

4. Injil Yohanes.
Kalangan sejarawan Masehi berbeda pendapat tentang masa penulisan kitab ini. Ada yang mengatakan tahun 65 M, dan ada yang mengatakan tahun 98 M atau 32 tahun setelah pengangkatan Yesus. Mayoritas dari pemuka agama Nasrani dan para peneliti di kalangan mereka menolak penisbatan kitab ini kepada Yohanes bin Zebedeus. Bahkan Sadlyn, mengatakan bahwa seluruh Injil Yohanes adalah buatan murid sekolah di Aleksandria. Pada awal abad 2 M, mereka mengingkari injil ini berikut semua yang dinisbatkan kepada Yohanes.
Ensiklopedia Brittanica, yang ditulis oleh lebih dari 500 ilmuwan dan cendikiawan Nasrani menyebutkan, “Injil Yohanes tidak diragukan lagi merupakan kitab palsu. Penulis palsu ini mendakwa bahwa dia adalah Yohanes anggota Hawariyyin, lalu mencantumkan namanya dalam kitab ini. Sungguh, kita merasa kasihan kepada mereka yang berjuang keras mengaitkan penulis kitab itu (filosof abad ke-2 M) dengan Yohanes sang Nelayan yang mulia itu. Sesungguhnya segala jerih payahnya akan sia-sia.”
Penulis inilah yang mencantumkan ketuhanan Yesus dalam Injil, yang kemudian disahkan oleh gereja. Sementara yang disepakati oleh seluruh cendikiawan Nasrani adalah, Injil Yohanes ditulis bukan dari hasil pendiktean secara langsung dari Yesus.

Injil Barnabas yang Tidak diakui Gereja
Selain empat Injil yang telah disebutkan, ada sebuah Injil yang tidak diakui keabsahannya oleh gereja, yaitu Injil Barnabas. Berikut adalah kisah tentang Injil Barnabas:
1. Tulisan Bishop Irenaeus (120 – 202 M), seorang dari Smyrna yang kemudian menjabat bishop di kota Lyon pada tahun 177 M, ada menyebut-nyebut Injil Barnabas (Gospel of Barnabas). Beberapa fragmen dari tulisan Bishop Irenaeus yang ditemukan itu berjudul Adverse Haereses.
2. Sejarawan Nasrani bernama Dr. Sa’ada (seorang Kristen) menyebutkan bahwa Paus St. Gelasius I yang menduduki kursi kepausan pada tahun 492 – 496 M mengeluarkan larangan terhadap sejumlah kitab, di antaranya adalah Injil Barnabas. Maka sejak itu, Injil Barnabas tersembunyi (sampai tahun 1709 M). Dari sini jelas bahwa pada masa dulu Injil Barnabas itu memang ada.
3. Suatu ketika, seorang pendeta bernama Framino (Ferramino) menemukan Surat-surat Larianus yang isinya berupa bantahan terhadap tulisan Paulus yang ada di dalam Injil. Terdorong rasa ingin tahu yang kuat, pendeta ini berhasil mendekati orang kepercayaan Paus Sectus V (Paus Sixtus V, naik tahta 1885-1890 M) sehingga bisa mendapatkan (meminjam) Injil Barnabas untuk menelitinya secara mendalam dan sembunyi-sembunyi. Setelah selesai, ternyata dia memutuskan masuk Islam.
4. Pada abad ke 16 M, ditemukan sebuah naskah kuno, yaitu Injil Barnabas dalam bahasa Itali. Naskah kuno tersebut ditemukan oleh seorang Father dalam Vatican Library. Ia lalu menyelundupkannya keluar.
5. Pada tahun 1709 M, naskah paling kuno tentang Injil Barnabas (yang ditulis dalam bahasa Italia itu ) dipinjam oleh Kreamer (Kremer/Craemer), salah seorang penasehat Raja Prusia (Jerman), dari salah seorang bangsawan tua yang dihormati di Amsterdam (Belanda). Kemudian orang tersebut menghadiahkan naskah tersebut kepada Prince Iyougen Safway (Prince Jugen Savoy) pada tahun 1713 M. Lalu pada tahun 1738 M, naskah tersebut berpindah dari perpustakaan Prince Iyougen ke perpustakaan kerajaan di Fienna (Wina). Di sini naskah itu kemudian disalin oleh seorang sarjana Inggris ke dalam bahasa Inggris.
Belakangan ditemukan naskah Injil Barnabas dalam bahasa Spanyol, lalu dipinjam oleh Dr. Holm, seorang Orientalis dari Hardley di Hampshire, dan naskah itu kemudian pindah tangan kepada Dr. Minkhauss, seorang anggota (peneliti) King’s College di Oxford yang lalu menyalinnya ke dalam bahasa Inggris.
6. Pada tahun 1784 M, naskah Injil Barnabas berbahasa Spanyol dan salinannya yang dalam bahasa Inggris diserahkan kepada Dr. White. Kemudian Dr. White membandingkannya dengan salinan Injil Barnabas bahasa Inggris yang disalin dari Injil Barnabas berbahasa Italia. Ternyata tidak dijumpai perbedaan isi di antara kedua salinan tersebut. Kedua Injil tersebut menyatakan bahwa Yesus Kristus tidak disalib, karena yang tertangkap dan disalibkan itu adalah Judas Iskariot. Di dalamnya juga tidak disebut-sebut tentang ilahiat Yesus Kristus.
7. Kitab Injil Barnabas diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Doktor Khalil Sa’ada.

Berikut adalah pernyataan Alkitab tentang Barnabas:
“Barnabas ini orang yang baik hati dan dikuasai Roh Allah serta sangat percaya kepada Tuhan sehingga banyak orang mengikuti Tuhan.” (Kisah Rasul-rasul 11: 24)
“Maka Paulus dan Barnabas bertengkar keras sehingga mereka berpisah…” (Kisah Rasul-rasul 15: 39)
Kitab Injil Barnabas mengungkapkan sejarah perjalanan hidup Yesus dengan susunan kalimat yang sangat indah dan terperinci. Dalam Injil yang dinisbatkan kepadanya ini, disebutkan bahwa ia adalah salah seorang dari 12 Hawariyyin (12 Apostles atau 12 murid utama Yesus). Lingkup penjelasannya sangat luas dan jauh berbeda dengan keempat Injil lain yang diakui oleh gereja. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Yesus adalah hamba Allah dan rasul utusan Allah. Ditegaskan bahwa ia bukan Tuhan dan juga mengingkari sebagai anak Tuhan.
2. Adz-Dzabiih’ yang diperintahkan Allah untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah Nabi Ismail ‘alaihissalam.
3. Akan datang Muhammad (disebutkan namanya dengan jelas) dan terdapat pembenaran tentang bakal didatangkan-Nya Al-Qur’an (padahal saat itu Muhammad dan Al-Qur’an belum ada).
4. Yang disalib bukan Yesus, tetapi Yahudza al-Askharyuti (Judas Iskariot) sang penghianat yang wajahnya diserupakan oleh Allah dengan wajah Yesus.
5. Menetapkan pokok-pokok keyakinan yang tidak terjamah oleh tangan-tangan jahil yang gemar mengubah-ubah.
Meskipun demikian, gereja tetap menolak untuk mengakui Injil Barnabas, hanya karena isinya tidak sejalan dengan akidah yang telah ditambah, dikurangi ataupun dirobah, yang telah (terlanjur) diterima oleh seluruh dewan gereja di dunia


E. Tempat Ibadah.
Gereja adalah tempat ibadah umat Kristen. Gereja (bahasa Portugis: igreja, bahasa Yunani: ekklêsia yang berarti dipanggil keluar (ek=keluar; klesia dari kata kaleo=memanggil); kumpulan orang yang dipanggil ke luar dari dunia ) memiliki beberapa arti:
1. Arti pertama ialah 'umat' atau lebih tepat persekutuan orang Kristen. Arti ini diterima sebagai arti pertama bagi orang Kristen. Jadi, gereja pertama-tama bukanlah sebuah gedung.
2. Arti kedua adalah sebuah perhimpunan atau pertemuan ibadah umat Kristen. Bisa bertempat di rumah kediaman, lapangan, ruangan di hotel, maupun tempat rekreasi.
3. Arti ketiga ialah mazhab (aliran) atau denominasi dalam agama Kristen. Gereja Katolik, Gereja Protestan, dll.
4. Arti keempat ialah lembaga (administratif) daripada sebuah mazhab Kristen. Contoh kalimat “Gereja menentang perang Irak”.
5. Arti terakhir dan juga arti umum adalah sebuah “rumah ibadah” umat Kristen, di mana umat bisa berdoa atau bersembahyang.
Gereja (untuk arti yang pertama) terbentuk 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus pada hari raya Pentakosta, yaitu ketika Roh Kudus yang dijanjikan Allah diberikan kepada semua yang percaya pada Yesus Kristus.

F. Nama-nama Nabi.

1 . ADAM /ADAM in Christian 13.ZULKIFLI/ EZEKIEL in Christian
2 . IDRIS / ENOCH in Christian 14.SU'AIB / JETHRO in Christian
3 . NUH / NOAH in Christian 15.YUNUS / JONAH in Christian
4 . HUUD / HEBER in Christian 16.MUSA / MOSES in Christian
5 . SHALEH / SHELAH in Christian 17.HARUN / AARON in Christian
6 . IBRAHIM/ABRAHAM in Christian 18.ILYAS / ELIJAH in Christian
7 . LUTH / LOT in Christian 19.ILYASIN / ELISHA in Christian
8 . ISMAIL /ISHMAEL in Christian 20.DAUD / DAVID in Christian
9 . ISHAQ / ISAAC in Christian 21.SULAIMAN /SOLOMON in Christian
10. YAKUB / YACOB in Christian 22.ZAKARIA/ZECHARIAH in Christian
11. YUUSUF / YOSEPH in Christian 23.YAHYA/JOHN the baptist
12. AYUB / JOB in Christian 24.ISA / YESUS in Christian






G. JUMLAH PENGIKUT DIDUNIA.


Hasil survei memperlihatkan agama Kristen menguasai 33 persen masyarakat dunia namun mereka mengalami perpecahan yang lebih besar dan lebih prinsipal dibanding agama-agama lainnya. Jumlah penduduk dunia adalah 6.671 M. Pemeluk nasrani: Kristen 1.6 M - 1.9 M.












BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan.
Agama ini memiliki prinsip ketuhanan Trinitas (yang terdiri atas Tiga Oknum : Tuhan Ayah, Tuhan Anak, dan Ruh Kudus). Dan Nabi Isa adalah manusia sekaligus Tuhan (Tuhan Anak). Kitab mereka adalah Injil / al Kitab, yang terdiri dari kitab perjanjian lama dan kitab perjanjian baru.
Kitab perjanjian baru yang ada sekarang ini disusun, ditetapkan dan dipakai sejak konfrensi dewan gereja sedunia I (konsili Nicea tahun 325 M). Terdiri dari empat, yang namanya diambil dari nama-nama para penginjilnya (Masing-masing ditulis oleh Markus, Mathius, Lukas, dan Yohanes.). Penulisan dilakukan sekitar tahun 70 hingga 100 Masehi sekitar 40 tahun setelah Yesus wafat (diperkirakan tahun 29 M).
Injil Barnabas tidak diakui keabsahannya oleh dewan Gereja didunia. Pemeluk umat nasrani: Kristen 1.6 M - 1.9 M didunia, sekitar 33 %.
B. Saran.
Penulis mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini, yang mana mungkin terdapat kesalahan. Kemudian harapan penulis setelah mempelajari makalah ini, hendaknya kita semakin menguatkan keyakinan kita terhadap kebenaran Islam dan kebathilan agama-agama yang lain. Untuk bisa menggagas dialog antar agama, dalam rangka dakwah dan kemaslahatan bersama.




DAFTAR PUSTAKA

T. H. Thalhas, Pengantar study ilmu perbandingan agama, Galura Pase Jakarta Selatan, 2006.cet I.

Huston Smith, Agama-Agama Manusia, (judul asli: The Religions of Man, perennial Library, London). Terjemahan oleh yayasan obor Jakarta Indonesia, penerbit yayasan obor Indonesia, 2001.

http://iman-ansori.blogspot.com/2010/11/konsep-ketuhanan-tiga-agama- besar-dunia.html

http://forum.dudung.net/index.php?topic=14185.0

http://indrawijaja.wordpress.com/2009/06/27/pegangan ahli kitab dan kotroversinya


http://www.opensubscriber.com/message/zamanku@yahoogroups.com/79 65074.html

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_religious_populations

http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja

Kamis, 03 Februari 2011

KONSEP CINTA (MAHABBAH) DALAM TASAWUF

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ajaran cinta kasih ternyata tidak hanya milik agama Kristen saja. Nabi Muhammad sendiri –yang notabene pembawa agama Islam– diutus oleh Allah untuk membawa misi sebagai kasih sayang bagi alam semesta (rahmah lil ‘alamin). Lebih jauh lagi, tasawuf sebagai salah satu bentuk pemahaman dalam Islam telah memperkenalkan betapa ajaran cinta (mahabbah) menempati kedudukan yang tinggi. Hal itu terlihat dari bagaimana para ulama sufi, seperti al-Ghazali, menempatkan mahabbah sebagai salah satu tingkatan puncak yang harus dilalui para sufi.
Wajah sejuk dan teduh tasawuf yang mendedahkan cinta, dari dulu sejak zaman Rabi’ah al-Adawiyah hingga di zaman modern sekarang, tak pelak menarik orang-orang yang tertarik dengan pencarian kebahagiaan dan kebenaran hakiki. Apalagi di zaman modern sekarang ketika alienasi sosial begitu banyak terjadi, terutama di masyarakat Barat. Alienasi tersebut terjadi di antaranya karena kemajuan material ternyata banyak mengorbankan penderitaan spiritual. Kemudahan-kemudahan hidup yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi modern membuat banyak orang jadi mengabaikan ruang rohani dalam dirinya.


BAB II
KONSEP CINTA (MAHABBAH) DALAM TASAWUF
A. DASAR-DASAR AJARAN MAHABBAH
1. Dasar Syara’
Ajaran mahabbah memiliki dasar dan landasan, baik di dalam Alquran maupun Sunah Nabi SAW. Hal ini juga menunjukkan bahwa ajaran tentang cinta khususnya dan tasawuf umumnya, dalam Islam tidaklah mengadopsi dari unsur-unsur kebudayaan asing atau agama lain seperti yang sering ditudingkan oleh kalangan orientalis.
a. Dalil-dalil dalam al-Qur’an, misalnya sebagai berikut:
1) QS. Al-Baqarah ayat 165
 ••  ¬                      •    •    
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
2) QS. Al-Maidah ayat 54
                 •                      
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
3) QS. Ali Imran ayat 31
     •          
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


b. Dalil-dalil dalam hadis Nabi Muhammad SAW, misalnya sebagai berikut:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ اْلإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Tiga hal yang barang siapa mampu melakukannya, maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: pertama Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; kedua: tidak mencintai seseorang kecuali hanya karena Allah; ketiga benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka.

….. وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا …
….Tidaklah seorang hamba-Ku senantiasa mendekati-Ku dengan ibadah-ibadah sunah kecuali Aku akan mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat; menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul; dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. …

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين
Tidak beriman seseorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.

2. Dasar Filosofis
Dalam mengelaborasi dasar-dasar filosofis ajaran tentang cinta (mahabbah) ini, al-Ghazali merupakan ulama tasawuf yang pernah melakukannya dengan cukup bagus. Menurut beliau, ada tiga hal yang mendasari tumbuhnya cinta dan bagaimana kualitasnya, yaitu sebagai berikut:
a. Cinta tidak akan terjadi tanpa proses pengenalan (ma’rifat) dan pengetahuan (idrak)
Manusia hanya akan mencintai sesuatu atau seseorang yang telah ia kenal. Karena itulah, benda mati tidak memiliki rasa cinta. Dengan kata lain, cinta merupakan salah satu keistimewaan makhluk hidup. Jika sesuatu atau seseorang telah dikenal dan diketahui dengan jelas oleh seorang manusia, lantas sesuatu itu menimbulkan kenikmatan dan kebahagiaan bagi dirinya, maka akhirnya akan timbul rasa cinta. Jika sebaliknya, sesuatu atau seseorang itu menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan, maka tentu ia akan dibenci oleh manusia.
b. Cinta terwujud sesuai dengan tingkat pengenalan dan pengetahuan
Semakin intens pengenalan dan semakin dalam pengetahuan seseorang terhadap suatu obyek, maka semakin besar peluang obyek itu untuk dicintai. Selanjutnya, jika semakin besar kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh dari obyek yang dicintai, maka semakin besar pula cinta terhadap obyek yang dicintai tersebut.
Kenikmatan dan kebahagiaan itu bisa dirasakan manusia melalui pancaindranya. Kenikmatan dan kebahagiaan seperti ini juga dirasakan oleh binatang. Namun ada lagi kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan bukan melalui pancaindra, namun melalui mata hati. Kenikmatan rohaniah seperti inilah yang jauh lebih kuat daripada kenikmatan lahiriah yang dirasakan oleh pancaindra. Dalam konteks inilah, cinta terhadap Tuhan terwujud.
c. Manusia tentu mencintai dirinya
Hal pertama yang dicintai oleh makhluk hidup adalah dirinya sendiri dan eksistensi dirinya. Cinta kepada diri sendiri berarti kecenderungan jiwa untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menghindari hal-hal yang bisa menghancurkan dan membinasakan kelangsungan hidupnya.
Selanjutnya al-Ghazali juga menguraikan lebih jauh tentang hal-hal yang menyebabkan tumbuhnya cinta. Pada gilirannya, sebab-sebab tersebut akan mengantarkan seseorang kepada cinta sejati, yaitu cinta kepada Tuhan Yang Maha Mencintai. Sebab-sebab itu adalah sebagai berikut:
a. Cinta kepada diri sendiri, kekekalan, kesempurnaan, dan keberlangsungan hidup
Orang yang mengenal diri dan Tuhannya tentu ia pun mengenal bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki diri pribadinya. Eksistensi dan kesempurnaan dirinya adalah tergantung kepada Tuhan yang menciptakannya. Jika seseorang mencintai dirinya dan kelangsungan hidupnya, kemudian menyadari bahwa diri dan hidupnya dihasilkan oleh pihak lain, maka tak pelak ia pun akan mencintai pihak lain tersebut. Saat ia mengenal bahwa pihak lain itu adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, maka cinta kepada Tuhan pun akan tumbuh. Semakin dalam ia mengenal Tuhannya, maka semakin dalam pula cintanya kepada Tuhan.
b. Cinta kepada orang yang berbuat baik
Pada galibnya, setiap orang yang berbuat tentu akan disukai oleh orang lain. Hal ini merupakan watak alamiah manusia untuk menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Namun pada dataran manusia dan makhluk umumnya, pada hakikatnya kebaikan adalah sesuatu yang nisbi. Karena sesungguhnya, setiap kebaikan yang dilaksanakan oleh seseorang hanyalah sekedar menggerakkan motif tertentu, baik motif duniawi maupun motif ukhrawi.
Untuk motif duniawi, hal itu adalah jelas bahwa kebaikan yang dilakukan tidaklah ikhlas. Namun untuk motif ukhrawi, maka kebaikan yang dilakukan juga tidak ikhlas, karena masih mengharapkan pahala, surga, dan seterusnya. Pada hakikatnya, ketika seseorang memiliki motif ukhrawi atau agama, maka hal itu juga akan mengantarkan kepada pemahaman bahwa Allah jugalah yang berkuasa menanamkan ketaatan dan pengertian dalam diri dan hatinya untuk melakukan kebaikan sebagaimana yang Allah perintahkan. Dengan kata lain, orang yang berbuat baik tersebut pada hakikatnya juga terpaksa, bukan betul-betul mandiri, karena masih berdasarkan perintah Allah.
Ketika kesadaran bahwa semua kebaikan berujung kepada Allah, maka cinta kepada kebaikan pun berujung kepada Allah. Hanya Allah yang memberikan kebaikan kepada makhluk-Nya tanpa pamrih apapun. Allah berbuat baik kepada makhluk-Nya bukan agar Ia disembah. Allah Maha Kuasa dan Maha Suci dari berbagai pamrih. Bahkan meskipun seluruh makhluk menentang-Nya, kebaikan Allah kepada para makhluk tetap diberikan. Kebaikan-kebaikan Allah kepada makhluk-Nya itu sangat banyak dan tidak akan mampu oleh siapa pun. Karena itulah, pada gilirannya bagi orang yang betul-betul arif, akan timbul cinta kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Baik, yang memberikan berbagai kebaikan dan kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.
c. Mencintai diri orang yang berbuat baik meskipun kebaikannya tidak dirasakan
Mencintai kebaikan juga merupakan watak dasar manusia. Ketika seseorang mengetahui bahwa ada orang yang berbuat baik, maka ia pun akan menyukai orang yang berbuat baik tersebut, meskipun kebaikannya tidak dirasakannya langsung. Seorang penguasa yang baik dan adil, tentu akan disukai rakyatnya, meskipun si rakyat jelata tidak pernah menerima langsung kebaikan sang penguasa. Sebaiknya, seorang pejabat yang lalim dan korup, tentu akan dibenci oleh rakyat, meski sang rakyat tidak mengalami langsung kelaliman dan korupsi sang pejabat.
Hal ini pun pada gilirannya akan mengantar kepada cinta terhadap Allah. Karena bagaimanapun, hanya karena kebaikan Allah tercipta alam semesta ini. Meski seseorang mungkin tidak langsung merasakannya, kebaikan Allah yang menciptakan seluruh alam semesta ini menunjukkan bahwa Allah memang pantas untuk dicintai.
d. Cinta kepada setiap keindahan
Segala yang indah tentu disukai, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lagu yang indah dirasakan oleh telinga. Wajah yang cantik diserap oleh mata. Namun keindahan sifat dan perilaku serta kedalaman ilmu, juga membuat seorang Imam Syafi’i, misalnya, dicintai oleh banyak orang. Meskipun mereka tidak tahu apakah wajah dan penampilan Imam Syafi’i betul-betul menarik atau tidak. Keindahan yang terakhir inilah yang merupakan keindahan batiniah. Keindahan yang bersifat batiniah inilah yang lebih kuat daripada keindahan yang bersifat lahiriah. Keindahan fisik dan lahiriah bisa rusak dan sirna, namun keindahan batiniah relatif lebih kekal.
Pada gilirannya, segala keindahan itu pun akan berujung pada keindahan Tuhan yang sempurna. Namun keindahan Tuhan adalah keindahan rohaniah yang hanya dapat dirasakan oleh mata hati dan cahaya batin. Orang yang betul-betul menyadari betapa Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan segala sifat kesempurnaan melekat dalam Zat-Nya, maka tak ayal ia pun akan menyadari betapa indahnya Tuhan, sehingga sangat pantas Tuhan untuk dicintai.
e. Kesesuaian dan keserasian
Jika sesuatu menyerupai sesuatu yang lain, maka akan timbul ketertarikan antara keduanya. Seorang anak kecil cenderung lebih bisa akrab bergaul dengan sesama anak kecil. Seorang dosen tentu akan mudah berteman dengan sesama dosen daripada dengan seorang tukang becak. Ketika dua orang sudah saling mengenal dengan baik, maka tentu terdapat kesesuaian antara keduanya. Berangkat dari kesesuaian dan keserasian inilah akhirnya muncul cinta. Sebaliknya, jika dua orang tidak saling mengenal, kemungkinan besar karena memang terdapat perbedaan dan ketidakcocokan antara keduanya. Karena ketidakcocokan dan perbedaan pula akan muncul tidak suka atau bahkan benci.
Dalam konteks kesesuaian dan keserasian inilah, cinta kepada Tuhan akan muncul. Meski demikian, kesesuaian yang dimaksud ini bukanlah bersifat lahiriah seperti yang diuraikan di atas, namun kesesuaian batiniah. Sebagian hal tentang kesesuaian batiniah ini merupakan misteri dalam dunia tasawuf yang menurut al-Ghazali tidak boleh diungkapkan secara terbuka. Sedangkan sebagian lagi boleh diungkapkan, seperti bahwa seorang hamba boleh mendekatkan diri kepada Tuhan dengan meniru sifat-sifat Tuhan yang mulia, misalnya ilmu, kebenaran, kebaikan, dan lain-lain.
Terkait dengan sebab keserasian dan kecocokan ini, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Allah tidak akan pernah ada yang mampu menandingi atau menyerupainya. Keserasian yang terdapat dalam jiwa orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, sehingga ia mampu mencintai Allah dengan sepenuh hati, hanyalah dalam arti metaforis (majazi). Keserasian tersebut adalah wilayah misteri yang hanya diketahui oleh orang-orang yang betul-betul mengalami cinta ilahiah.



B. DOKTRIN-DOKTRIN MAHABBAH
1. Makna Cinta di Kalangan Sufi
Dalam tasawuf, konsep cinta (mahabbah) lebih dimaksudkan sebagai bentuk cinta kepada Tuhan. Meski demikian, cinta kepada Tuhan juga akan melahirkan bentuk kasih sayang kepada sesama, bahkan kepada seluruh alam semesta. Hal ini bisa dilacak pada dalil-dalil syara’, baik dalam Alquran maupun hadis yang menunjukkan tentang persoalan cinta. Sebagian dalil tersebut telah disebutkan pada bagian sebelumnya dalam makalah ini.
Secara terminologis, sebagaimana dikatakan al-Ghazali, cinta adalah suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang memberikan manfaat. Apabila kecenderungan itu mendalam dan menguat, maka ia dinamakan rindu. Sedangkan sebaliknya, benci adalah kecenderungan untuk menghindari sesuatu yang menyakiti. Apabila kecenderungan untuk menghindari itu mendalam dan menguat, maka ia dinamakan dendam.
Menurut Abu Yazid al-Busthami mengatakan bahwa cinta adalah menganggap sedikit milikmu yang sedikit dan menganggap banyak milik Dzat yang kau cintai. Sementara Sahl bin Abdullah al-Tustari menyatakan bahwa cinta adalah melakukan tindak-tanduk ketaatan dan menghindari tindak-tanduk kedurhakaan. Bagi al-Junaid, cinta adalah kecenderungan hati. Artinya, kecenderungan hati seseorang kepada Allah dan segala milik-Nya tanpa rasa beban.
2. Cinta Sejati adalah Cinta kepada Allah
Bagi al-Ghazali, orang yang mencintai selain Allah, tapi cintanya tidak disandarkan kepada Allah, maka hal itu karena kebodohan dan kepicikan orang tersebut dalam mengenal Allah. Cinta kepada Rasulullah SAW, misalnya, adalah sesuatu yang terpuji karena cinta tersebut merupakan manifestasi cinta kepada Allah. Hal itu karena Rasulullah adalah orang yang dicintai Allah. Dengan demikian, mencintai orang yang dicintai oleh Allah, berarti juga mencintai Allah itu sendiri. Begitu pula semua bentuk cinta yang ada. Semuanya berpulang kepada cinta terhadap Allah.
Jika sudah dipahami dan disadari dengan baik lima sebab timbulnya cinta yang telah diuraikan al-Ghazali sebelumnya, maka juga bisa disadari bahwa hanya Allah yang mampu mengumpulkan sekaligus kelima faktor penyebab cinta tersebut. Kelima faktor penyebab tersebut terjadi pada diri manusia hanyalah bersifat metaforis (majazi), dan bukanlah hakiki. Hanya Allah Yang Maha Sempurna. Ia tidak bergantung kepada apapun dan siapa pun. Kesempurnaan itulah yang akan mengantarkan seseorang kepada cinta sejati, yaitu cinta terhadap Allah.
3. Mahabbah: antara Maqam dan Hal
Sebagaimana diketahui, dalam terminologi tasawuf ada istilah maqam (tingkatan) dan hal (keadaan, kondisi kejiwaan). Menurut as-Sarraj ath-Thusi dalam kitabnya al-Luma’, maqam merujuk kepada tingkatan seorang hamba di depan Tuhan pada suatu tingkat yang ia ditempatkan di dalamnya, berupa ibadah, mujahadah, riyadhah, dan keterputusan (inqitha’) kepada Allah. Sedangkan hal adalah apa yang terdapat di dalam jiwa atau sesuatu keadaan yang ditempati oleh hati. Sementara menurut al-Junaid, hal adalah suatu “tempat” yang berada di dalam jiwa dan tidak statis.
Menurut al-Ghazali, cinta kepada Allah (mahabbah) merupakan tingkatan (maqam) puncak dari rangkaian tingkatan dalam tasawuf. Tak ada lagi tingkatan setelah mahabbah selain hanya sekedar efek sampingnya saja, seperti rindu (syauq), mesra (uns), rela (ridla), dan sifat-sifat lain yang serupa. Di samping itu, tidak ada satu tingkatan pun sebelum mahabbah selain hanya sekedar pendahuluan atau pengantar menuju ke arah mahabbah, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lain-lain. Cinta sebagai maqam ini juga diamini oleh Ibn Arabi. Menurutnya, cinta merupakan maqam ilahi.
Berbeda dengan al-Ghazali, menurut al-Qusyairi, mahabbah merupakan termasuk hal. Bagi al-Qusyairi, cinta kepada Tuhan (mahabbah) merupakan suatu keadaan yang mulia saat Tuhan bersaksi untuk sang hamba atas keadaannya tersebut. Tuhan memberitahukan tentang cinta-Nya kepada sang hamba. Dengan demikian, Tuhan disifati sebagai yang mencintai sang hamba. Selanjutnya, sang hamba pun disifati sebagai yang mencintai Tuhan.
4. Tingkatan Cinta
Dilihat dari segi orangnya, menurut Abu Nashr ath-Thusi, cinta kepada Tuhan terbagi menjadi tiga macam cinta. Pertama, cinta orang-orang awam. Cina seperti ini muncul karena kebaikan dan kasih sayang Tuhan kepada mereka. Ciri-ciri cinta ini adalah ketulusan dan keteringatan (zikir) yang terus-menerus. Karena jika orang mencintai sesuatu, maka ia pun akan sering mengingat dan menyebutnya.
Kedua, cinta orang-orang yang shadiq dan mutahaqqiq. Cinta mereka ini timbul karena penglihatan mata hati mereka terhadap kekayaan, keagungan, kebesaran, pengetahuan dan kekuasaan Tuhan. Ciri-ciri cinta ini adalah “terkoyaknya tabir” dan “tersingkapnya rahasia” Tuhan. Selain itu, ciri lain adalah lenyapnya kehendak serta hilangnya semua sifat (kemanusiaan dan keinginan duniawi).
Ketiga, cinta orang-orang shiddiq dan arif. Cinta macam ini timbul dari penglihatan dan pengenalan mereka terhadap ke-qadim-an Cinta Tuhan tanpa sebab (illat) apapun. Menurut Zunnun al-Mishri, sifat cinta ini adalah terputusnya cinta dari hati dan tubuh sehingga cinta tidak lagi bersemayam di dalamnya, namun yang bersemayam hanyalah segala sesuatu dengan dan untuk Allah. Sedangkan menurut Abu Ya’qub as-Susi, cirinya alah berpaling dari cinta menuju kepada Yang Dicintai. Sementara al-Junaid menambahkan bahwa ciri cinta macam ini adalah meleburnya sifat-sifat Yang Dicintai kepada yang mencintai sebagai pengganti sifat-sifatnya.

C. PENGARUH DOKTRIN MAHABBAH
Semenjak Rabi’ah al-Adawiyah mengungkapkan corak tasawuf melalui puisi, prosa, atau dialognya, ajaran cinta ilahi (mahabbah) pun mulai menjadi tema menarik di kalangan tasawuf. Gambaran tentang Tuhan pun tidak lagi begitu menakutkan seperti sebelumnya. Tuhan seolah menjadi lebih dekat dan lebih “manusiawi”.
Pada perkembangan tasawuf selanjutnya, mahabbah selalu menjadi tema yang mendapat pembahasan secara khusus. Para sufi pun banyak yang membahas lebih mendalam tentang tema ini dalam karya-karya mereka, seperti al-Hujwairi dengan Kasyf al-Mahjub, ath-Thusi dengan al-Luma’, al-Qusyairi dengan ar-Risalah al-Qusyairiyyah, al-Ghazali dengan Ihya Ulumiddin, Ibnu Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyah, dan lain-lain.
Pada bidang puisi, banyak para sufi yang juga sekaligus penyair yang kemudian menyenandung cinta ilahi, seperti Abu Sa’id bin Abi al-Khair, al-Jilli, Ibnu al-Faridh, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. Hingga sekarang, para penyair sufi kontemporer masih banyak yang menyenandungkan puisi-puisi cinta ilahi, seperti Syekh Fattah yang membentuk kelompok musik Debu yang kini ada di Indonesia.











BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Ajaran cinta ilahi yang dikumandangkan oleh tasawuf sebenarnya bisa dijadikan sarana kita untuk lebih memperhalus jiwa. Kehalusan jiwa yag dihasilkan oleh tasawuf ini diperlukan agar agama tidak selalu dipahami secara legal-formalistik belaka yang biasanya ditampilkan oleh kalangan ahli fikih. Dengan demikian, agama pun diharapkan bisa menjadi berwajah toleran, humanis, dan menerima realitas pluralistik yang ada di tengah di masyarakat, seperti puisi yang didengungkan oleh Ibnu Arabi di awal makalah.
Meski demikian, ajaran cinta dalam Alquran sendiri, juga menghendaki keseimbangan antara sisi individual dan sosial; antara emosional dan rasional. Dari penelitian yang pernah dilakukan penulis, term-term cinta yang ditampilkan Alquran justru bersifat dinamis dan menghendaki aktualisasi riil dalam realitas sosial. Cinta dalam Alquran hampir selalu ditempatkan dalam konteks untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan sosial. Karena itu tidaklah mengherankan jika di akhir abad 19 hingga awal abad 20, beberapa kelompok sufi di Afrika Utara menjadi pendorong perlawanan terhadap penjajahan Barat. Wallahu a’lam.
 
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrasyid Ridha, Memasuki Makna Cinta, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003).
Abu al-Qasim al-Qusyari, ar-Risalah al-Qusyairiyyah, (format e-book dalam Program Syamilah).
Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Suatu Pengantar tentang Tasawuf, terj. Ahmad Rofi’ Utsmani, (Bandung: Pustaka, 1985).
Abu Bakr Muhammad al-Kalabadzi, at-Ta’arruf li Mazhab Ahl at-Tashawwuf, (tk.: Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyyah, 1969).
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, (Beirut, Dar al-Ma’rifah, tt).
Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi, al-Luma’, (Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, 1960).
Al-Hujwairi, Kasyful Mahjub, terj. Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi WM, (Bandung: Mizan, 1993).
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973).
Ibn al-Mulqin, Thabaqat al-Auliya, (format e-book Program al-Maktabah asy- Syamilah)
Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari al-Ja’fi, al-Jami’ as-Shahih al-Mukhtashar, ed. Mushtafa Dib al-Biqha, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987).
Muhyiddin Ibnu Arabi, al-Futuhat al-Makkiyah, (format e-book dalam Program Syamilah).
______, Dzakhair al-A’laq Syarh Tarjuman al-Asywaq, seperti dikutip oleh Syamsuddin Arif, “Ibnu Arabi dan Pluralisme” dalam www.hidayatullah.com

Selasa, 25 Januari 2011

TANTANGAN PENIDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBALISASI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, menerobos berbagai pelosok perkampungan di pedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit di perkotaan, melalui media audio (radio) dan audio visual (televisi, internet, dan lain-lain). Fenomena modern yang terjadi di awal milenium ketiga ini popular dengan sebutan globalisasi.
Sebagai akibatnya, media ini, khususnya televisi, dapat dijadikan alat yang sangat ampuh di tangan sekelompok orang atau golongan untuk menanamkan atau, sebaliknya, merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau mengontrol pola fikir seseorang oleh mereka yang mempunyai kekuasaan terhadap media tersebut. Persoalan sebenarnya terletak pada mereka yang menguasai komunikasi global tersebut memiliki perbedaan perspektif yang ekstrim dengan Islam dalam memberikan criteria nilai-nilai moral; antara nilai baik dan buruk, antara kebenaran sejati dan yang artifisial. Di sisi lain era kontemporer identik dengan era sains dan teknologi, yang pengembangannya tidak terlepas dari studi kritis dan riset yang tidak kenal henti. Dengan semangat yang tak pernah padam ini para saintis telah memberikan kontribusi yang besar kepada keseejahteraan umat manusia di samping kepada sains itu sendiri. Hal ini sesuai dengan identifikasi para saintis sebagai pecinta kebenaran dan pencarian untuk kebaikan seluruh umat manusia. Akan tetapi, sekali lagi, dengan perbedaan perspektif terhadap nilai-nilai etika dan moralitas agama, jargon saintis sebagai pencari kebenaran tampaknya perlu dipertanyakan.

BAB II
TANTANGAN PENIDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBALISASI
A. Diversifikasi Konsep Pendidikan Islam
Ahmed (1990) mendefinisikan pendidikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan individu-individu dan masyarakat untuk mentransmisikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan dan bentuk-bentuk ideal kehidupan mereka kepada generasi muda untuk membantu mereka dalam meneruskan aktifitas kehidupan secara efektif dan berhasil.
Khan (1986) mendefinisikan maksud dan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:
a. Memberikan pengajaran Al-Qur’an sebagai langkah pertama pendidikan.
b. Menanamkan pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang terwujud dalam Al-Qur’an dan Sunnah dan bahwa ajaran-ajaran ini bersifat abadi.
c. Memberikan pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat.
d. Menanamkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis Iman dan Islam adalah pendidikan yang tidak utuh dan pincang.
e. Menciptakan generasi muda yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun dalam ilmu pengetahuan.
f. Mengembangkan manusia Islami yang berkualitas tinggi yang diakui secara universal.
Pendekatan pendidikan Islam yang diajukan oleh kedua pakar pendidikan di atas tersimpul dalam First World Conference on Muslim Education yang diadakan di Makkah pada tahun 1977:

“Tujuan daripada pendidikan (Islam) adalah menciptakan ‘manusia yang baik dan bertakwa ‘yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan.”
Oleh karena itu jelaslah bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam di sini bukanlah dalam arti pendidikan ilmu-ilmu agama Islam yang pada gilirannya mengarah pada lembaga-lembaga pendidikan Islam semacam madrasah, pesantren atau UIN (dulu IAIN). Akan tetapi yang dimaksud dengan pendidikan Islam di sini adalah menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji. Sehingga diharapkan akan bermunculan “anak-anak muda enerjik yang berotak Jerman dan berhati Makkah” seperti yang sering dikatakan oleh mantan Presiden B.J. Habibie. Kata-kata senada dan lebih komprehensif diungkapkan oleh Al-Faruqi (1987) pendiri International Institute of Islamic Thought, Amerika Serikat, dalam upayanya mengislamkan ilmu pengetahuan. Sengaja saya kutip menurut teks aslinya untuk tidak mengurangi semangat universalitas Islam yang terkandung di dalamnya:
“Islamization does not mean subordination of any body of knowledge to dogmatic principles or arbitrary objectives, but liberation from such shackles. Islam regards all knowledge as critical; i.e., as universal, necessary and rational. It wants to see every claims pass through the tests of internal coherence correspondence with reality, and enhancement of human life and morality. Consequently, the Islamized discipline which we hope to reach in the future will turn a new page in the history of the human spirit, and bring it clear to the truth.”
Di sini perlu ditekankan bahwa konsep pendidikan dalam Islam adalah ‘long life education’ atau dalam bahasa Hadits Nabi “sejak dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat” (from the cradle to the grave). Itu berarti pada tahap-tahap awal, khususnya sebelum memasuki bangku sekolah, perang orang tua terutama ibu amatlah krusial dan menentukan mengingat pada usia balita inilah pendidik, dalam hal ini orang tua, memegang peran penting di dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak. Dampak lebih jauh televisi terhadap perkembangan anak balita seperti yang dikatakan Hiesberger (1981) bisa mengarah pada “a dominant voice in our lives dan a major agent of socialization in the lives of our children” (menjadi suara dominan dalam kehidupan kita dan agen utama proses sosialisasi dalam kehidupan anak-anak kita).
Tentu saja peran orang tua tidak berhenti sampai di sini, keterlibatan orang tua juga diperlukan pada fase-fase berikutnya ketika anak mulai memasuki usia sekolah, baik SD, SMP, maupun SMU. Menjelang mas pubertas yakni pada usia antara dua belas sampai delapan belas tahun anak menjalani episode yang sangat kritis di mana sukses atau gagalnya karir masa depan anak sangat tergantung pada periode ini. Robert Havinghurst, pakar psikolog Amerika, menyebutkan periode ini sebagai “developmental task” atau proses perkembangan anak menuju usia dewasa.
Apabila kita kaitkan periode developmental task ini pada aspek budaya kehidupan anak-anak Muslim, khususnya mereka yang tinggal di negara-negara non-Muslim atau di negara Islam tapi di kota-kota besar, dapat dibayangkan situasi yang mereka hadapi. Mereka tidak pernah atau jarang melihat sikap positif terhadap Islam, baik dalam keluarga, di sekolah maupun di masyarakat. Dalam situasi seperti ini tentu merupakan tanggung jawab orang tua untuk menanamkan nilai nilai moral, berbagi pengalaman kehidupan Islami yang pada gilirannya nanti akan mengarah pada internalisasi misi Al-Qur’an dan Sunnah. Peran orang tua seperti ini akan sangat membantu anak dalam memasuki kehidupan yang fungsional sebagai Muslim yang dewasa dan sebagai anggota yang aktif dalam komunitas Islam. Apabila anak menampakkan tanda-tanda sikap yang negatif terhadap Islam yang disebabkan oleh pengaruh dari sekolah atau masyarakat atau karena kecerobohan dan kelengahan orang tua, maka hal ini akan mengakibatkan penolakan anak terhadap hidup Islami dan akan gagal berintegrasi dengan komunitas Islam.
Oleh karena itu adalah tugas orang tua, khususnya dan utamanya, untuk mengatur strategi yang tepat dalam rangka membantu proses pembentukan pribadi anak khususnya dalam periode developmental task tersebut.. Dalam hal ini orang tua haruslah memiliki wawasan pengetahuan yang luas serta dasar pengetahuan agama yang mencukupi untuk menghindari kesalahan strategi dalam mendidik anak. Kedua, mengalokasikan waktu yang cukup untuk memberikan kesempatan bagi anak berinteraksi serta meresapi sikap-sikap Islami yang ditunjukkan oleh orang tua dalam perilaku kesehariannya. Persoalannya adalah secara factual tidak semua orang dapat memenuhi criteria-kriteria di atas yang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: (a) Orang tua, terutama ibu, tidak memiliki wawasan pengetahuan yang mempuni, khususnya di bidang pedagogi anak dan nilai-nilai dasar Islami.
B. Langkah-Langkah Mengantar Anak Menuju Pintu Gerbang Masa Depan yang Cerah, Sehat, Agamis dalam Menghadapi Globalisasi.
Pertama, mendatangkan guru privat agama pada waktu usia anak di bawah dua belas tahun untuk mengajarkan nilai-nilai dasar Islam, termasuk cara membaca Al-Qur’an dan Hadits. Pada usia tiga belas tahun sampai dengan delapan belas tahun kandungan makna Al-Qur’an dan Hadits mulai diajarkan dengan metode yang praktis, sistematis dan komprehensif, mengingat pada periode ini anak sudah mulai disibukkan dengan pelajaran-pelajaran di sekolah. Dengan demikian diharapkan ketika memasuki bangku kuliah anak sudah memiliki gambaran yang utuh dan komprehensif tentang Islam, beserta nilai-nilai abadi yang terkandung di dalamnya. Sehingga ia tidak akan mudah menyerah terhadap tekanan-tekanan dan pengaruh-pengaruh luar yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, minimal ia akan tahu ke mana jalan untuk kembali ketika, oleh pengaruh eksternal yang terlalu kuat, ia melakukan penyimpangan-penyimpangan dari nilai-nilai Islam.
Kedua, menyekolahkan anak sejak dari SMP sampai SMU di lembaga-lembaga Islam semacam pesantren modern yang saat ini sudah banyak memiliki sekolah-sekolah umum yang berkualitas.
Ketiga, memasukkan anak sejak TK sampai SMU di lembaga-lembaga pendidikan yang memakai lebel Islam, seperti yayasan Muhammadiyah, yayasan NU, yayasan al-Azahar dan lain-lain. Akan tetapi alternatif ketiga ini dalam pengamatan penulis tidak begitu efektif. Salah satu sebabnya adalah karena kurang komprehensifnya kurikulum keislaman di dalamnya. Kendatipun begitu, ini jauh lebih baik dibanding, misalnya, memasukkan anak ke sekolah-sekolah non-Muslim. Memang menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah non-Muslim tidak berarti anak tersebut akan terkonversi ke agama lain, tetapi dampak minimal yang tak terhindarkan adalah timbulnya sikap skeptis dan apatis anak terhadap Islam.
Secara faktual hampir seluruh negara-negara Islam. baru terlepas dari belenggu penjajahan Barat di akhir abad dua puluh tepatnya sekitar 1950-an. Pada umumnya terjadinya pemindahan kekuasaan dari penjajah ke tangan pribumi menimbulkan terjadinya perubahan politik di negara-negara tersebut yang sebagai akibatnya tertundanya reformasi pendidikan yang dicita-citakan sebelumnya. Pendidikan hanya menjadi bagian dari retorika politik dan rencana-rencana pengembangan pendidikan terartikulasi tanpa adanya pencapaian yang berarti. Dewasa inipun anggaran negara yang dicanangkan untuk program pendidikan di negara-negara Islam relatif sangat rendah sehingga infrastruktur pendidikan yang mutlak diperlukan tidak atau jarang tersedia. Sebagai contoh Malaysia, negara Islam yang relatif maju program pendidikannya ini, menurut UNESCO (1996) hanya mengalokasikan dana U$D 82 perkapita, sementara Indonesia sendiri cuma mengalokasikan U$D 6 perkapita.
Di samping itu, sudah bukan rahasia lagi bahwa di era Orde Baru pelajar mengalami banyak hambatan, khususnya untuk kuliah agama, untuk dapat belajar ke luar negeri apalagi untuk mendapatkan beasiswa. Bandingkan misalnya dengan Malaysia atau India. Para pelajarnya bukan hanya didorong untuk belajar ke luar negeri tetapi juga mendapat tawaran-tawaran beasiswa atau pinjaman-pinjaman jangka panjang yang menarik. Di “Orde Reformasi” ini sangat urgen adanya sikap kebersamaan antara lembaga-lembaga agama, khususnya lembaga Islam dengan pemerintah melalui pendekatan yang bersifat mutual respect (saling menghargai), mutual understanding (saling memahami) dan mutual need (saling membutuhkan) dengan tujuan yang pasti yaitu untuk semakin mendorong laju pertumbuhan pendidikan demi terciptanya jutaan pakar-pakar Iptek yang ber-imtak.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Gambaran solusi Islami terhadap tantangan-tantangan pendidikan di era globalisasi di atas, bagaimanapun, merupakan disain besar, yang oleh sebagian kalangan mungkin dianggap terlalu romantis. Kendatipun bukan berarti mustahil dilakukan dengan melihat beberapa fenomena paling mutakhir di berbagai dunia Islam, khususnya Indonesia meliputi : (a) semakin menipisnya dikotomi antara (meminjam istilah Clifford Geertz ) Islam Santri dan Islam Abangan, (b) semakin banyaknya pakar iptek yang berlatar belakang santri, (c) semakin tipisnya friksi yang terjadi antara berbagai organisasi Islam yang disebabkan oleh semakin tajamnya visi Islam mereka dalam awal milenium ini dan (d) terjadinya perubahan dahsyat dalam konstalasi politik di Indonesia dari demokrasi artifisial, menuju demokrasi yang relatif dapat diharapkan.
Untuk itu yang paling diperlukan guna mengimplementasikan blue-print di atas adalah visi yang jauh ke depan dan political will semua pihak yang terkait yaitu: individu-individu Muslim (termasuk orang tua), para pakar iptek dan agama, institusi-institusi pendidikan, lembaga-lembaga Islam serta pemerintah.
B. Saran.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini terdapat kekurangan baik isi maupun materi dalam pembahasan, untuk itu Penulis mohon kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penulisan ini.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, Manzoor (1990), Islamic Education, New Delhi: Qazi Publishers, hlm. 1

Asfar, Muhamad (1996), “Ulama dan Politik: Perspektif Masa Depan”, Ulumul Quran, 5(VI), hlm. 4-18.Brown, Chip, “The Science Club Serves its Country” dalam Esquire, December 1994.
Cairns, E. (1990), “Impact of Television News Exposure on Children’s Perceptions of Violence in Northern Ireland” Journal of Social Psychology, hlm. 130, 447-452.
Conway, M.M., Stevens, A.J. & Smith, R.G. (1975), “The Relation between Media Use and Children’s Civic Awareness”, Journalism Quarterly, hlm. 52, 531-538.
Faruqi, Isma’il al- (1987), “Foreward” dalam Akbar S. Ahmed Toward Islamic Anhtropology: Definition, Dogma and Directions, Lahore, hlm.7.
Francis, Leslie J. (1997), “The Socio-psychological Profile of the Teenage Television Addict” dalam The Muslim Education Quarterly, 1 (15), hlm 5-19.
Hegell, A & Newburn, T. (1996), “Comparison of the Viewing Habits and Preferences of Young Offenders and Representative Shool Children”, Pastoral Care, 14, 1, hlm. 31-42.
Khan, Sharif (1986), Islamic Education, New Delhi: Ashish Publishing House, hlm.37-38.
Khan, Sharif (1997), Some Aspects of Islamic Education, Ambala Cantt. (India): Associated Publishers, hlm.61-64.

"Islamisasi tidak berarti subordinasi dari tubuh pengetahuan dengan prinsip-prinsip dogmatis atau tujuan sewenang-wenang, tetapi pembebasan dari belenggu tersebut. Islam menganggap semua pengetahuan penting, yakni, sebagai universal, diperlukan dan rasional. Ia ingin melihat setiap klaim melalui pengujian korespondensi koherensi internal dengan realitas, dan peningkatan kehidupan manusia dan moralitas. Akibatnya, disiplin agama Islam yang kami berharap dapat mencapai di masa depan akan membuka halaman baru dalam sejarah jiwa manusia, dan membawanya jelas untuk kebenaran. "

FILSAFAT PENDIDIKAN REKONSTRUKSIONISME

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam filsafat modern dikenal beberapa aliran-aliran diantaranya aliran Rekonstruksionisme.Dizaman modern ini banyak menimbulkan krisis di berbagai bidang kehidupan manusia terutama dalam bidang pendidikan, dimana keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran.
Untuk mengatasi krisis kehidupan modern tersebut aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupa membina konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok yang tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Oleh karena itu pada aliran rekonstruksionisme ini peradaban manusia masa depan sangat ditekankan, disamping itu aliran rekonstruksionisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berpikir kritis dan sebagainya.
B. Rumusan Masalah
Sebagaimana disinggung dalam latar belakang masalah maka dalam penulisan ini penulis akan memformulasikan beberapa rumusan masalah sebagai berikut, “Apakah Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme”.
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah adalah :
1. Agar mengetahui pengertian Filsafat Rekonstruksionisme
2. Agar mengetahui teori pendidikan Rekonstruksionisme
3. Agar mengetahui pandangan-pandangan tentang Rekonstruksionisme
4. Agar mengetahui macam-macam pendekatan Rekonstruksionisme
5. Agar mengetahui komponen kurikulum Rekonstruksionism
BAB II
FILSAFAT PENDIDIKAN REKONSTRUKSIONISME
A. Pengertian Filsafat Pendidikan Rekontruksionisme
Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggris “reconstruct” yang berarti menyusun kembali, dalam konteks filsafat aliran rekonstruksionisme adlah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata hidup kebudayaan yang bercorak modern yaitu melakukan perombakan dan menyusun kembali pola-pola lama menjadi pola-pola baru yang lebih modern.

B. Teori Pendidikan Rekonstruksionisme
Teori pendidikan rekonstruksionisme yang dikemukakan oleh Brameld terdiri dari enam tesis, yaitu :
1. Pendidikan harus dilaksanakan disini dan sekarang dalam rangka menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai-nilai dasar budaya kita dan selaras dengan yang mendasari kekuatan-kekuatan ekonomi, dan sosial modern. Pendidikan harus mensponsori perubahan yang benar dalam nurani manusia. Oleh karena itu, kekuatan teknologi yang sangat kuat harus dimanfaatkan untuk membangun umat manusia, bukan untuk menghancurkannya. Masyarakat harus diubah bukan melalui tindakan positif, melainkan dengan cara mendasar.
2. Masyarakat baru harus berada dalam kehidupan demokrasi sejati, dimana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh warganya sendiri. Semua yang mempengaruhi harapan dan hajat masyarakat seperti sandang, pangan, papan, kesehatan industry dan sebagainya. Semua akan menjadi tanggung jawab rakyat melalui wakil-wakil yang dipilih. Masyarakat ideal adalah masyarakat yang demokrasi. Struktur, tujuan dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan tata aturan baru harus diakui merupakan bagian dari pendapat masyarakat.
3. Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial. Menurut rekonstruksionisme hidup beradab adalah hidup berkelompok sehingga kelompok akan memainkan peran yag penting disekolah.
4. Guru harus meyakini terhadap validitas dan urgensinya dirinya dengan cara bijaksana yaitu dengan memperhatikan prosedur yang demokratis. Guru harus mengadakan pengujian secara terbuka terhadap fakta-fakta.
5. Cara dan tujuan pendidikan harus diubah kembali seluruhnya dengan tujuan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan krisis budaya dewasa ini, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial. Yang penting dari sains sosial adalah mendorong kita untuk menemukan nilai-nilai, dimana manusia percaya atau tidak bahwa nilai-nilai itu bersifat universal.
6. Kita harus meninjau kembali penyusunan kurikulum, isi pelajaran, metode yang pakai, struktur administrasi, dan bagaiman guru dilatih. Semua itu harus di bangun kembali bersesuaian dengan teori kebutuhan tentang sifat dasar manusia secara rasional dan ilmiah. Kita harus menyusun kurikulum dimana pokok-pokok dan bagiannya dihubungkan secara integral, tidak disajikan sebagai suatu sekuensi komponen pengetahuan.

C. Pandangan-pandangan Tentang Rekonstruksionisme
1. Pandangan Ontology
Dengan ontology dapat mengetahui tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. Aturan rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal yang mana realita itu ada dimana dan sama disetiap tempat. Menurut Noor Syam, untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang kongkrit dan menuju kearah yang khusus menampakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indera manusia.

2. Pandangan Epistimologis
Kajian epistimologis aliran ini berpijak pada pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan asas tahu, karenanya baik indera maupun rasio sama-sama membentuk pengetahuan dan akal dibawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya.

3. Pandangan Ontologis
Bernadib mengungkapkan bahwa aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan asas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahui. Kemudian manusia sebagai subjek telah mempunyai potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai kodratnya.

4. Pandangan Filsafat Rekonstruksionisme Tentang Pengetahuan
Secara umum, filsafat rekonstruksionisme merupakan sebuah paham anti essensialisme, yang menekankan kepada penciptaan budaya dan sejarah. Bagi filsafat rekonstruksionisme yang terpenting adalah pribadi sebagai bentuk budaya, karena pribadi terbentuk dari materi budaya, seperti bahasa dan praktik budaya lainnya dalam waktu tertentu dan tempat tertentu pula. Sementera itu ia memandang pengetahuan merupakan proses menjadi pelan-pelan yang menjadi lengkap dan benar.
Para penganut rekontruksionisme berpendapat bahwa pengetahuan itu adalah merupakan konstruksi dari kita yang sedang belajar. Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang dipelajari tetapi merupakan kontruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada disana dan orang tinggal mengmbilnya,tetapi merupakan suatu bentuk terus menerus dari seseorang yang setiap kali mengadakan reorganisasi karena munculnya pemahaman yang baru.
Kaum rekonstruksionisme menyatakan bahwa manusia dapat mengetahui sesuatu dengan inderanya. Dengan berinteraksi terhadap objek dan lingkungan melalui proses melihat, mendengar, menjamah, membau, dan merasakan, orang dapat mengetahui sesuatu.
Von Glaserfeld menyebutkan beberapa kemampuan yang diperlukan untuk proses pembentukan pengetahuan itu seperti :
1. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman.
2.Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
3. Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lain. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengaaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk oleh interaksi dengan pengalaman-pengalaman tersebut.




D. Macam-macam Pendekatan Rekonstruksionisme
Pendekatan ini juga disebut rekonstruksi sosial karena memfokus kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, dan lain-lain.
Dalam gerakan rekonstruksionisme terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangan tentang kurikulum, yakni :
1. Rekonstruksionisme Konservatif, aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat, masalah-masalah dapat bersifat local dan bersifat daerah nasional, regional dan internasional bagi pelajar SD dan Perguruan Tinggi. Peranan guru sebagai orang yang menganjurkan perubahan (agent of change) mendorong siswa menjadi partisipan aktif dalam proses perbaikan masyarakat. Pendekatan kurikulum ini konsisten dengan Falsafah Pragmatisme.
2. Rekonstruksionisme Radikal, pendekatan ini berpendapat bahwa banyak Negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil, yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. Elite yang berkuasa mengadakan tekanan terhadap massa yang tak berdaya melalui system pendidikan yang diatur demi tujuan itu.
Golongan radikal ini menganjurkan agar pendidikan formal maupun pendidikan nonformal mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata. Mereka berpendapat bahwa sekolah yang dikembangkan negara bersifat opresif dan tidak humanistic serta digunakan sebagai alat golongan elit untuk mempertahankan status quo.
Untuk pendirian yang saling bertentangan ini, baik yang konservatif maupun yang radikal mempunyai unsur kesamaan. Mereka berasumsi bahwa masalah-masalah sosial adalah hasil ciptaan manusia dan karena itu dapat diatasi oleh manusia. Sebaliknya golongan radikal ingin merombak tata sosial yang ada dan menciptakan tata sosial yang baru sama sekali untuk memperbaiki system lebih efisien.

E. Komponen-komponen Kurikulum Rekonstruksi
1. Tujuan dan Isi Kurikulum
Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah, misalnya dalam pendidikan ekonomi-politik, pada tahun pertama membangun kembali dunia ekonomi politik. Maka kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Mengadakan survey secara kritis terhadap masyarakat.
b. Mengadakan studi tentang hubungan antara keadaan ekonomi lokal, nasional, serta internasional.
c. Mengadakan studi tentang latar belakang historis dan kecenderungan-kecenderungan pertimbangan ekonomi, hubungannya dengan ekonomi lokal.
d. Mengkaji praktek politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi
e. Memantapkan rencana perubahan praktek politk.
f. Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria apakah telah memenuhi kepentingan sebagian besar orang.

2. Metode
Guru berusaha membantu siswa dalam menemukan minat dan kebutuhannya sesuai dengan minat masing-masing siswa, baik dalam kegiatan pleno atau kelompok berusaha memecahkan masalah sosial yang dihadapi dengan kerja sama.

3. Evaluasi
Dalam kegiatan evaluasi para siswa juga dilibatkan. Keterlibatan mereka terutama dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan. Soal yang diujikan dinilai terlebih dahulu baik ketepatan maupun keluasan isinya, juga keampuhan menilai pencapaian tujuan-tujuan pembangunan masyarakat yang sifatnya kualitatif. Evaluasi tidak hanya menilai apa yang dikuasai siswa, tetapi juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap msyarakat. Pengaruh tersebut terutama menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat.













BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Pandangan aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamat dunia merupakan tugas bersama semua umat manusia atau bangsa, karenanya pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk alam dan dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Aliran rekonstruksionisme ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis sehingga perubahan-perubahan untuk mencapai tujuan yang lebih baik akan selalu diadakan dan dijadikan realita, dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan-golongan tertentu, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, agama, dan masyarakat yang bersangkutan, akan tetapi perubahan yang digunakan untuk kepentingan bersama.






DAFTAR PUSTAKA
HanafiImam,”ParadigmaPembelajaranRekonstruksionisme”:http://nafieihsan.blogspot.com/2008/05/Paradigma-Pembelajaran html (diakses tanggal 13 Desember 2010)
Jalaludin dan Abdullah,” Filsafat Pendidikan Manusia dan Pendidikan “(Jakarta : Gaya Media Pratama, 1997)
Priari,”Pendekatan-Pendekatan Dalam Pendidikan Luar Sekolah,”007luck di/ pada 8 Oktober 2008, http : //priari007luck.wordpress. (diakses tgl 13 Desember 2010)
Sadullah Uyoh,”Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung,” : Alfa Beta, 2003
Sukma Dinata, Nana Syaodih, “Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,”Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2006